Liburan sekolah tak selalu diisi dengan bermain atau berwisata. Bagi puluhan remaja yang tergabung dalam sebuah komunitas pengajian di Jagakarsa, masa libur justru menjadi kesempatan belajar dengan cara yang berbeda: menyusuri jejak sejarah, mengenal transportasi publik, dan memetik pelajaran hidup langsung dari pengalaman.
Mereka berangkat membawa kartu uang elektronik. Pulangnya membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, keberanian, dan cerita. Sebanyak 77 peserta bersama 13 pendamping mengikuti wisata edukatif bertema “Menelusuri Lorong Waktu di Pusat Batavia” pada Kamis (2/7). Sejak berkumpul di Stasiun Lenteng Agung, proses belajar sudah dimulai.
Bagi sebagian peserta, menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan pengalaman pertama. Di depan gerbang elektronik, mereka belajar melakukan tap in dan tap out menggunakan kartu uang elektronik. Hal sederhana itu menjadi pelajaran tentang kemandirian, kedisiplinan, dan tertib menggunakan fasilitas publik.
Pengalaman mereka semakin bertambah ketika petugas PT KAI memberikan edukasi mengenai cara menggunakan KRL dengan aman dan nyaman. “Aku kaget, keretanya penuh banget,” ujar salah seorang peserta sambil tertawa mengingat pengalaman pertamanya menaiki KRL.
Rasa terkejut itu justru membuka wawasan baru. Mereka belajar tentang dinamika kehidupan kota, pentingnya menghargai ruang bersama, dan bersabar di tengah keramaian. Sesampainya di Kota Tua, rasa ingin tahu para peserta semakin tumbuh.
Di Museum Bank Indonesia, mereka mengenal perjalanan sistem keuangan Nusantara melalui koleksi mata uang dari berbagai zaman, uang peninggalan kolonial, hingga batangan emas sebagai simbol cadangan devisa negara. Berbagai pertanyaan mengalir kepada pemandu museum, sementara sejarah yang selama ini hanya dibaca di buku pelajaran hadir nyata di depan mata.
Perjalanan berlanjut ke Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Dari masa kerajaan, lahirnya Batavia, hingga berkembang menjadi Jakarta, setiap ruang menghadirkan kisah yang membuat sejarah terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
Salah satu pengalaman yang paling membekas justru terjadi di luar museum. Seorang wisatawan mancanegara tampak meminta bantuan kepada petugas untuk mencari arah. Melihat kendala bahasa yang terjadi, beberapa peserta yang memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris spontan membantu menerjemahkan percakapan tersebut. Peristiwa singkat itu menyadarkan mereka bahwa pelajaran yang dipelajari di sekolah ternyata dapat menjadi bekal untuk membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Koordinator kegiatan, Diah Annisa, mengatakan bahwa pengalaman langsung merupakan cara belajar yang paling efektif bagi anak-anak dan remaja. “Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan di luar ruangan. Ketika mereka melihat, mencoba, bertanya, bahkan mengalami sendiri suatu peristiwa, proses belajar akan lebih mudah dipahami dan membekas,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan remaja tidak cukup hanya dilakukan di dalam ruang kajian. Pengalaman nyata juga penting untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian, kepedulian, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan komunitas pengajian remaja binaan DPC PKS Jagakarsa yang secara rutin menghadirkan aktivitas pengembangan karakter, wawasan, dan kepemimpinan. Harapannya, para remaja tidak hanya tumbuh kuat dalam nilai-nilai keislaman, tetapi juga siap menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Hari itu, Kota Tua bukan sekadar destinasi wisata. Ia menjelma menjadi ruang kelas tanpa dinding. Peron stasiun mengajarkan disiplin. Gerbong kereta melatih kepedulian. Museum menghidupkan sejarah. Bahkan percakapan singkat dengan seorang wisatawan membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari hari ini dapat menjadi manfaat bagi orang lain.
Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam kelas, tetapi juga tentang keberanian melangkah, mengalami, lalu pulang dengan cara pandang yang lebih luas.
