Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah rumah tangga ternyata bisa menjadi sumber manfaat. Bagi sebagian warga Kelurahan Cipedak, minyak bekas menggoreng bahkan mulai disisihkan sebagai tabungan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga persiapan Hari Raya Idulfitri. Melalui program pengumpulan minyak jelantah yang digagas RKI BIPEKA Cipedak, sebanyak 318,5 liter minyak jelantah berhasil dikumpulkan dari warga RW 01, RW 03, RW 05, dan RW 06 pada awal Juli 2026.
Minyak jelantah tersebut dibeli dengan harga Rp5.000 per liter, sehingga memberikan nilai ekonomi bagi warga sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan ke saluran air berpotensi menyumbat drainase dan mencemari badan air karena sulit terurai.
Koordinator Pengumpulan Minyak Jelantah RKI BIPEKA Cipedak, Sefi Siti Safiqoh, menjelaskan bahwa pengambilan minyak jelantah oleh lembaga pengolah biasanya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Namun, pengambilan kali ini menghasilkan volume yang lebih besar karena masih terdapat minyak yang belum terangkut pada periode sebelumnya.
“Pengambilan terakhir sebenarnya dilakukan pada November 2025. Saat jadwal berikutnya pada Mei 2026 masih ada minyak yang belum sempat diangkut, sehingga baru seluruhnya diambil pada awal Juli ini,” jelas Bu Sefi.
Menurutnya, antusiasme warga terus meningkat dari waktu ke waktu. Meski demikian, proses pendataan dan pengukuran masih memiliki tantangan karena warga menggunakan wadah dengan ukuran yang beragam, sementara sebagian minyak masih mengandung endapan sehingga volume bersihnya perlu diukur kembali.
“Kadang kami harus mengukur ulang karena wadah botol yang digunakan warga tidak standar. Ada juga minyak yang masih banyak endapannya, sehingga volumenya tidak sesuai saat diperiksa,” ujar Bu Sefi.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Rasmonah, warga RW 03. Ia memilih menyisihkan hasil penjualan minyak jelantah sebagai tabungan yang akan digunakan menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Saya senang bisa menabung dari minyak jelantah. Selain tidak bingung harus dibuang ke mana sehingga lingkungan rumah lebih bersih, hasilnya juga saya tabung sedikit demi sedikit untuk membantu memenuhi kebutuhan dapur menjelang Lebaran,” tutur Bu Rasmonah.
Bu Sefi berharap semakin banyak warga yang ikut berpartisipasi dalam program ini. Menurutnya, semakin banyak minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan, semakin besar pula manfaat yang dirasakan, baik bagi lingkungan maupun masyarakat.
“Harapan kami, semakin banyak warga yang menyimpan minyak jelantah daripada membuangnya. Sedikit demi sedikit, minyak bekas yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata bisa menjadi tambahan penghasilan sekaligus membantu menjaga lingkungan tetap bersih,” pungkasnya.
