Home ArtikelKolomOpini Dampak Perang Iran – Israel terhadap Ketahanan Energi Indonesia

Dampak Perang Iran – Israel terhadap Ketahanan Energi Indonesia

by admin

Oleh Nanang E. Saputro, S.Si.,M.Si Kabid Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (ELHPI) DPD PKS Jakarta Selatan

Memanasnya perang Iran – Israel yang berujung dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengingatkan dunia pada rapuhnya rantai pasok energi global. Selat sempit di Teluk Persia itu selama ini menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, atau sekitar 20–21 juta barel per hari. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga minyak global yang melonjak hingga kisaran US$77–82 per barel dan potensi mencapai kisaran US$100 – 150 dari harga yang normal sebelum adanya penutupan Selat Hormuz sebesar US$60. Bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, situasi ini bukan sekadar gejolak pasar, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih sangat tinggi, yakni sekitar 40 – 50% dari total kebutuhan domestik. Sebagian pasokan tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah, termasuk dari Saudi Arabia dan United Arab Emirates yang rute pengirimannya melewati Selat Hormuz. Sehingga ketika jalur vital ini terganggu, dampaknya segera merambat ke dalam negeri melalui kenaikan harga energi dan potensi tekanan pada pasokan BBM. Dimana kemampuan Indonesia mampu bertahan dengan cadangan strategis BBM hanya 20-26 hari jika Selat Hormuz tetap tertutup total, jauh di bawah standar internasional 90 hari.

Jalan keluar dari Krisis Energi

Belajar dengan adanya dampak yang lebih luas terhadap penutupan Selat Hormuz ini diperlukan adanya way out dari Pemerintah Indonesia dengan mengurangi ketergantungan terhadap energi dari fosil (minyak dan gas) serta sedikit banyak untuk peningkatan pengembangan energi lainnya seperti bioenergy seperti program energi biodiesel B40 (berbahan minyak jelantah), energi listrik, energi tenaga surya maupun pemanfaatan energi nuklir untuk listrik bersih, stabil, dan berbiaya rendah jangka panjang melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Walaupun tidak bisa langsung menggantikan minyak impor secara penuh, langkah persiapan jalan keluar ini menunjukkan keseriusan Indonesia untuk mulai bergerak menuju sistem energi kedepan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Langkah Praktis Respon Masyarakat terkait Kelangkaan Energi

Memulai dengan langkah hemat energi seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum, dan penyiapan stok sembako dan pribadi, melakukan efisiensi efisiensi listrik dan memasak hemat gas untuk antisipasi inflasi harga pokok. Selain itu juga melakukan langkah-langkah persiapan dirumah dengan menyiapkan lampu petromax, stok lilin, ataupun briket Batubara dikarenakan dikhawatirkan penutupan Selat Hormuznya akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Spread the love

You may also like

Leave a Comment