Ada Perpaduan antara Protokol Langit dan Protokol Bumi dalam Hijrah Nabi

Spread the love

Ketua Dewan Etik Daerah (DED) PKS Jakarta Selatan, Ustadz Syarifudin Mustafa, Lc

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Alhamdulillah ala nikmatillah, wasshalatu wassalam ala hadil ummah, Muhammad ibni Abdillah, wa ala alihi wa ashabihi waman walah

Tala‘a al-badru ‘alaynā, Min thanīyāti al-wadā‘,Wajab al-shukru ‘alaynā,  Mā da‘ā lillāhi dā‘,Ayyuha al-mab‘ūthu fīnā,  Ji’ta bil-amri al-mutā‘,  Ji’ta sharaft al-madīnah, Marḥaban yā khayra dā‘

Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita # Dari lembah Wadā‘.

Dan wajiblah kita mengucap syukur #Di mana seruan adalah kepada Allah.

Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami # Datang dengan seruan untuk dipatuhi

Anda telah membawa kemuliaan kepada kota ini # Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah

Itulah senanding bait-bait syair atau nasyid yang dinyanyikan oleh kaum Ansar saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw di Yatsrib (sekarang Madinah) dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 M. 

Bait syair atau nasyid  ini telah berusia 14 abad lamanya, atau tepatnya sudah berumur 1442  tahun yang menjadi salah satu peninggalan kebudayaan Islam yang tertua yang ada di muka bumi ini, sementara hijrahnya Rasulullah saw dan para sahabat lainnya dianggap sebagai tonggak berdirinya nagara dan mercusuar peradaban Islam.

Bait syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum Muslimin dan menganggapnya sebagai sebuah nyanyain yang Islami. Bahkan Imam al-Ghozali dalam kitabnya “Ihya’ Ulumuddin”  menjadikannya sebagai dalil kehalalan nyanyian dan musik.

Bait syait diatas menandai sampainya dengan selamat hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan sahabat setianya Abu Bakar Ashiddiq dari Mekkah ke Madinah. 

Kisah sukses dan keberhasilan Hijrah nabi saw bukanlah semata sekejap dan simsalabim, namun hasil perpaduan dua system yang satu sama lainnya saling mendukung yaitu system atau aturan Allah dan system atau aturan manusia. Atau dalam Bahasa kekiinian dengan perpaduan protokol langit dan protokol bumi, atau secara syari disebut dengan “sunnatullah dan sunnatul kaun”.

Bahwa Rasulullah SAW sangatlah faham, bahwa dirinya pasti berhasil melakukan hijrah; dirinya pasti selamat dari segala siasat keji dan ancaman keras dari pihak musuh; dirinya pasti tidak akan akan terjamah oleh orang yang ingin melukai atau membunuhnya. Karena beliau nabi terakhir pasti mendapatkan jaminan langsung dari Allah berupa perlindungan sesuai dengan janji-Nya dalam surat Almaidah ayat 67. Allah berfirman: “Dan Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia”.

Namun, sekalipun demikian, Rasulullah saw tidak hanya mengandalkan protokol langit, tapi beliau juga menggunakan protokol bumi berupa rencana, siasat, strategi dan usaha guna memuluskan hijrah sehingga perjalanannya selamat sampai tujuan.

Saat mengawali hijrah, Nabi SAW berangkat dari rumah tinggalnya, beliau sadar dirinya sudah dikepung oleh pihak musuh, namun dengan tenang beliau mengatur strategi berupa perintah kepada Ali untuk tidur di dipannya untuk mengelabui pihak musuh baru beliau masih ada dirumah sedang istirahat.

Setelah itu beliau keluar dari rumah menuju rumah sahabatnya yaitu Abu BakarAsshiddiq. Disana beliau mengatur strategi hijrah; tidak langsung pergi ke Madinah namun menetap terlebih dahulu di gua Tsur selama 3 malam, memerintahkan kepada 2 anaknya dan 1 pembantunya melakukan tugas; seperti yang dilansir dari buku Sirah Nabawiyah karya Ali Muhammad Ash-Shalabi; Abdullah bin Abu Bakar bertugas membaur dengan kaum Quraisy untuk mencari informasi pergerakan mereka. Sementara Asma’ binti Abu Bakar bertugas membawakan bekal makanan. Kemudian Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu Bakar bertugas menggembalakan kambing untuk diperah susunya pada malam hari dan digembalakannya kembali saat menjelang pagi. Rasulullah dan Abu Bakar mengupah seseorang dari suku Bani Ad Diil sebagai penunjuk jalan. Ia merupakan seorang pemandu jalan profesional yang sangat memegang janji untuk tidak berkata kepada siapapun, padahal ia memeluk agana orang kafir Qurasy.  Saat melakukan perjalanan menuju Madinah pun, Rasulullah bersama Abu Bakar dan budaknya ‘Amir bin Fuhairah serta pemandu jalan Abdullah bin Uraiqith menuju Madinah melalui rute yang bukan biasanya. Ini dilakukan agar tidak diketahui kaum Quraisy yang hendak mengikuti.

Itulah salah satu cara Rasulullah saw dan sahabatnya menggunakan protokol bumi (sunnatul kaun). Meskipun pada sisi lainnya Rasulullah saw sangat yakin dan meyakinkan sahabatnya Abu Bakar untuk tidak melepaskan diri dari protokol langit (sunnatullah); yaitu adanya kebersamaan dan perotolongan Allah.

Nampak saat Abu Bakar selama masa persembunyian, Abu Bakar selalu merasa khawatir bahwa Rasulullah akan tertangkap lalu dibunuh. Sehingga keluarlah Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 40: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Alquran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” 

Pertolongan Allah SWT hadir ketika salah seorang Kaum Quraisy melakukan penyisiran hingga ke Gua Tsur. Saat itulah mereka menaiki gunung dan melewati gua. Mereka melihat di atas pintu gua terdapat jaring laba-laba. Sehingga mereka berpikir tidak mungkin ada orang yang bersembunyi di dalam gua apabila di pintu gua terdapat jaring laba-laba. Dan laba-laba ini adalah tentara-tentara Allah yang menolong kebenaran dan mengalahkan kebatilan.

Begitulah teladan Rasulullah SAW, selaku manusia sekaligus utusan Allah, beliau melakukan kolaborasi antara protokol langit dan protokol bumi. Menjadikan pelajaran kepada kita semua bahwa dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai macam masalah atau ujian tetap lakukan dua proses tersebut.

Apalagi disaat ini, ditengah kondisi penyebaran covid 19 yang kian menjadi, belum ketahuan kapan berakhir dan berujung, selaku muslim terutama anggota PKS dan anggota masyarakat dan selaku anak bangsa. Sangatlah penting memadukan dua protokol tersebut sebagai langkah untuk untuk terhindar dan selamat dari musibah pandemic covid 19 saat ini.

Diantara dua protokol tersebut adalah;

  1. Protokol langit (sunnatullah); yaitu dengan meningkatkan iman kepada Allah, selalu berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah bahwa tidak ujian kecuali dibaliknya ada hikmah, tidak ada kesulitan kecuali setelahnya kemudahan, mengembalikan segala urusan kepada Allah, senantiasa istighfar dan taubat kepada Allah, dan senantiasa berharap agar Allah menganugrahi kita semua keridhaan kepada-Nya atas semua ketetapan-Nya, dan menganugerahkan keberkahan terhadap semua yang ditakdirkan. Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: Tak ada hal yang menghalangi seseorang saat mengalami kesusahan dalam urusan kehidupan (ekonomi) untuk berdoa saat hendak keluar dari rumahnya:

Bismillahi ‘ala nafsi wa mali wa dini, Allahumma Raddhini bi Qada’ika, Wabarik li fima quddira li hatta la uhibba ta’jila ma akhkharta wa la ta’khira ma ‘ajjalta

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ridha (menerima) atas ketetapan-Mu. Serta, berkahilah aku atas rizki yang Engkau tentukan. Sehingga, aku tak tergesa meminta sesuatu yang Engkau akhirkan atau mengakhirkan sesuatu yang Engkau hendak percepat.” (HR. Ibnu as-Sunni).

Kenapa protokol langit harus kita lakukan?

Agar seorang muslim senantiasa menjadi muslim sejati, tidak mudah putus asa, terlindung dari marabaya, menentramkan hati, dan bertawakkal serta niscaya Allah akan membuatkan kaya dengan Anugerah-Nya.

  • Protokol bumi (sunnatul kaun); yaitu dengan meiningkatkan imunitas diri berupa konsumsi makanan bergizi dan vitamin, rajin olar raga, berjemur matahari, tidur yang cukup, dan mentaati peraturan pemerintah berupa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), dan juga prokes 6 M (selalu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, membatasi mobilitas, menghindari keramaian atau kerumunan dan menghindari makan bersama diluar rumah).

Dan juga dalam rangka menerapkan protokol bumi untuk melakukan vaksin, sebagai langkah untuk memberikan kekebalan tubuh dan membentuk herd imunity (kekebalan kelompok); dimana ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut. Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap suatu virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tersebut tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan virus tersebut lebih jauh. Dengan cara ini, penyebaran penyakit tersebut dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 70% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai kekebalan kelompok.

Semua itu adalah ikhtiar yang dituntut untuk dilakukan oleh setiap manusia, usaha maksimal untuk melindungi diri saat menghadapi ujian. Meskipun semua hasil dari semua manusia Allah SWT yang menentukan, namun usaha yang maksimal harus tetap dilakukan. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa berjihad (usaha maksimal), maka sesungguhnya (hasil) dari jihadnya itu untuk dirinya sendiri”. (QS. Alankabut: 6) dan Allah juga akan memberikan banyak jalan untuk menuju kesukesan dan keberhasilan saat manusia mengerahkan seluruh potensi dirinya. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad (berusaha secara maksimal) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (Alankabut: 69). Dan pada akhirnya setiap perubahan pada setiap diri seseorang bergantung pada usaha yang dilakukan oleh orang tersebut. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. (QS. Arra’ad: 11).

Selamat tahun baru Hijriyah 1443 untuk kaum muslimin semua. Semoga tahun baru ini menjadi inspirasi untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, memadukan dua protokol (langit dan bumi) dalam berbagai lini kehidupan, terutama saat mengehadapi dan berusaha menanggulangi musibah pandemi covid 19.

Mari kita tegarkan diri untuk senantiasa beriman kepada Allah, kokohkan jiwa untuk melaksanakan kewajiban beribadah kepada Allah, dan kobarkan semangat untuk tetap sehat dan bugar serta terhindar dari segala musibah.

Hasbunallah wani’mal wakil

Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung (Ali Imran:173)

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *