Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta agar pengedar obat Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol (PCC) dihukum seberat-beratnya. Peredaran PCC dianggap seperti teror kemanusiaan dan masa depan anak bangsa.
“Jadi menurut saya, ini tentang pil PCC layak untuk dikutuk, kalau betul sudah ditangkap agar dia dihukum yang sekeras-kerasnya, karena dia melakukan teror kemanusiaan dan masa depan bagi anak remaja kita,” kata HNW di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/9/2017).
Kata dia, Indonesia sedang darurat narkoba. “Dan sekarang sudah ada obat mematikan,” ujar Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Menurut dia, peredaran obat PCC itu tidak hanya di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. “Tapi di beberapa tempat menyebar.”
Di samping itu, dia menilai kasus peredaran obat PCC itu menjadi tantangan bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) atau pemerintah untuk betul-betul menyelamatkan generasi muda dari kejahatan ini.
Sumber : SindoNews/15 September 2017/Rico Afredo Simanjuntak

Alumni Pesantren Gontor yang menempuh studi di Madinah selama 13 tahun ini mengambil topik mengenai momen hijrah Nabi Muhammad ke Madinah yang kini diperingati sebagai Tahun Baru Islam, yang menjadi penentu bagi umat Islam Indonesia untuk memiliki rujukan dalam perjalanan dan perjuangan Islam.
Di hadapan sekitar 300 peserta, HNW mengatakan, dialog ini merupakan kelanjutan dari kegiatan MPR bekerjasama dengan masyarakat termasuk di wilayah Cilacap.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid mengajak seluruh pihak mengedepankan silaturahim dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari masyarakat luas, pejabat negara, TNI, Polri, dan semuanya tanpa terkecuali.


Komisi I DPR RI didatangi Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Rudiantara untuk secara khusus membahas masalah kejahatan siber dan juga kelompok sindikat penebar kebencian (saracen).
Partai keadilan Sejahtera (PKS) menunggu keputusan final dari pemerintah mengenai kenaikan dana Parpol sebesar 10 kali lipat. Wakil ketua Dewan Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid mengaku tidak mau partainya bersikap duluan atas keputusan yang belum final sehingga nantinya kemudian partainya disalahkan. “Kami lihat bagaimana nanti mereka memutuskan benang merah akhirnya. Jangan sampai kemudian partai bersikap ternyata nanti mereka goreng partai yang disalahkan lagi jadi kita tunggu saja bagaimana realisasi akhir dari keputusan keputusan ini,” kata Hidayat di komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (28/8/2017).
“LGBT itu sesuai dengan pancasila atau justru menyimpangi pancasila? ukurannya adalah sila pertama pancasila, ketuhanan yang maha esa, dengan sangat mudah kita tanya pada tokoh-tokoh agama, apakah agama anda membolehkan LGBT? tapi kan tidak (tidak boleh LGBT),” ujar Hidayat Nur Wahid, Selasa (8/8/2017).
Wakil ketua MPR RI Hidayat Nurwahid menyebut pendidikan yang baik, merupakan tetap mengikuti perkembangan zaman dan tidak meninggalkan Islam. Bahkan perkembangan zaman menurutnya, tidak sampai mengubah seseorang menjadi ateis dan sekuler.
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid membuka seminar internasional bertema ‘Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Pemikiran Islam Moderat’ di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jakarta. Hidayat mengungkapkan bahwa Indonesia tidak hanya besar dalam jumlah penduduk beragama Islam, tapi juga dalam jumlah pendidikan Islam.