Ketua Bidang Kepandua dan Olah Raga (BKO) PKS Jaksel, Bang Oman bersama pengurus PKS Jaksel melaksanakan gowes sehat yang digelar BKO bersama pengurus PKS Jaksel dalam rangka olahraga bersama, Sabtu (16/1/2021).
Kegiatan Gowes ini merupakan ajang silaturahmi dan juga untuk memupuk kebersamaan yang dilaksanakan bersama pengurus PKS Jaksel.
Ketua BKO PKS Jaksel, Bang Oman usai Gowes menyampaikan, “Kegiatan ini merupakan ajang untuk mempererat silaturahmi antara pengurus baru PKS Jaksel. Karena sekarang masih dalam situasi pandemi jadi tolong tetap patuhi protokoler kesehatan, di masa seperti ini kita harus sehat dengan melaksanakan 3 M.”
Acara kegiatan Gowes mengambil lokasi di Hutan UI Bike Park. Menariknya, sambil istirahat menikmati pemandangan para peserta gowes melakukan acara minum kopi bersama menyantap ubi rebus, sambil tetap mengedukasi kepada peserta Gowes untuk tetap mengutamakan protokol kesehatan.
Kegiatan gowes merupakan salah satu cara untuk meningkatkan imun tubuh dimasa pandemi Corona. Kegiatan gowes bersama tersebut dimulai dari pukul 07.00 wib dengan peserta berjumlah sepuluh orang dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.
Di satu sisi, olahraga di masa pandemi sangat disarankan demi mendongkrak imunitas tubuh, namun di sisi lain harus dilakukan dengan cara yang aman. Salah satu jenis olahraga yang diyakini memiliki tingkat risiko infeksi Covid-19 yang lebih rendah, dibandingkan olahraga luar ruang lain adalah bersepeda. Namun, tetap saja ada panduan yang harus diperhatikan agar kegiatan tersebut berlangsung aman demi kesehatan.


embangunan di Jakarta tentu berpengaruh terhadap warga Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta. Pembangunan besar-besaran di Jakarta semakin membuat pemukiman warga khususnya warga Betawi semakin sempit dan tergeser. Posisinya terlihat semakin tersingkir, semoga nasib warga Betawi tidak menjadi seperti suku Aborigin di Australia atau suku Indian di Amerika. Suku yang menjadi warga kelas dua di wilayah asli mereka sendiri, selain itu mereka juga kehilangan hak-hak sosial kehidupannya. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit, hotel, apartemen, minimarket, serta mall-mall secara perlahan dan sadar menyingkirkan penduduk asli. Pembangunan fisik Kota Jakarta yang tidak mempertimbangkan faktor kelanjutan hidup satu komunitas masyarakat dengan budayanya, ujungnya bisa saja seperti penghapusan etnis tertentu yang dijalankan pelan – pelan. Betawi sebagai pihak yang memiliki tanah sebagai warisan leluhur, kampung halaman, adat istiadat, dan bahasa, harus dihormati selaras dengan perkembangan jaman dan peradaban. Pembangunan Jakarta disinyalir telah berdampak terhadap ancaman kepunahan budaya dan masyarakat Betawi sebagai satu kesatuan suku atau etnis di Jakarta.