Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana meminta revitalisasi kantor kelurahan diprioritaskan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2017. Pria yang akrab disapa Sani itu menyampaikan hal tersebut dalam rapat Kebijakan Umum Perubahan Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUPA-PPAS) di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (24/8/2017).
Salah satu yang harus direvitalisasi yakni Kantor Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur. “Pengadaan lahan sekaligus desain Kantor Lurah Kelapa Dua Wetan saya minta diprioritaskan untuk masuk dalam APBD Perubahan 2017,” ujar Sani. Tak hanya Kantor Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kantor Kelurahan Jembatan Lima dan Jembatan Besi di Jakarta Barat juga dinilai harus direvitalisasi.
Seusai rapat, Sani menyebut, revitalisasi kantor kelurahan perlu diprioritaskan karena berkaitan dengan optimalisasi pelayanan terhadap masyarakat. “Kami mendorong supaya pelayanan masyarakat melalui kelurahan itu segera dituntaskan agar semua kantor kelurahan itu memiliki standar pelayanan minimum,” kata dia.
Semua kantor kelurahan di Jakarta, lanjut Sani, harus memenuhi standar yang ada. Saat ini, masih ada kantor-kantor kelurahan yang tidak layak digunakan untuk melayani masyarakat. “Kami meminta agar semua kelurahan yang tidak layak, masih tradisional, segera direnovasi atau memungkinkan dipindahkan sesuai jumlah minimal luas lantai yang dibutuhkan untuk pelayanan,” ucap Sani.



Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana secara tegas mengatakan menolak untuk membahas kelanjutan dari dua Raperda terkait Reklamasi pantai utara Jakarta. Hal ini disampaikan setelah menerima rombongan Komunitas Nelayan Tradisional (KNT) dan Relawan Gerbang Jakarta, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (26/7/2017).


Jakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya religiusitas masih bersinar di kota ini, cahaya itu kian terasa di akhir – akhir ramadhan seperti saat ini. Jakarta kini, 22 Juni 2017 memasuki usianya yang ke-490. Ibu Kota Indonesia itu lahir pada 22 Juni 1527 dengan nama Jayakarta. Tanggal tersebut diketahui merupakan hari di mana pasukan Fatahillah sebagai panglima Kesultanan Demak merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis. 490 sebuah usia yang harusnya sudah cukup matang dan dewasa untuk menyelesaikan berbagai masalah internalnya. Namun kita ketahui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai kini. Kini ulang tahun Jakarta terjadi di akhir – akhir bulan ramadhan, di 10 hari terkahir bulan ramadhan, dimana sebagain warga Jakarta duduk bersimpuh memanjatkan doa dan dzikir di masjid – masjid, sholat taraweh atau sholat malam, itikaf, khataman Qur’an dan lain – lain.





