Sejumlah kegiatan dalam kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Perubahan DKI 2017 banyak yang dicoret. Penyebabnya dikarenakan perencanaan yang tidak matang.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana mengatakan, pembahasan RAPBD Perubahan DKI 2017 masih dalam tahap penyesuaian KUA-PPAS. Hingga tahun kelima penyusunan anggaran periode kepemimpinan Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang kini diteruskan Gubernur Djarot Saiful Hidayat, masih saja ditemukan banyaknya anggaran yang dicoret akibat buruknya perencanaan.
Salah satu contohnya, lanjut Triwisaksana, Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (KUKMP) yang mengusulkan anggaran senilai Rp8,7 miliar, dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) senilai Rp43,8 miliar, dan oleh Banggar dicoret.
“Sangat disayangkan masih banyak anggaran yang dimatikan saat pembahasan. Ini bukti buruknya perencanaan. Saya harap pada 2018 tidak terjadi lagi hal seperti ini,” kata Triwisaksana di DPRD DKI Jakarta pada Kamis, 24 Agustus 2017 kemarin.
Pria yang akrab disapa Sani itu menjelaskan, kegiatan yang dicoret dalam satu perangkat daerah itu bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Alasannya karena secara umum kegiatan tersebut tidak mungkin terealisasi sampai dengan akhir tahun 2017 yang hanya menyisakan waktu sekitar tiga bulan apabila target penyelesaian pembahasan selesai September mendatang.
Seharusnya, perangkat daerah sudah mengetahui hal tersebut sebelum pembahasan dimulai. Sehingga alokasi anggaran kegiatan yang dicoret bisa dialokasikan kepada kegiatan di perangkat daerah lain. “Sangat disayangkan karena anggaran tidak dipakai. Lebih baik dimasukkan ke kegiatan lain. Kami harap pekan depan pembahasan KUA-PPAS sudah selesai dan akhir September sudah bisa digunakan,” ungkapnya.
Selain itu, Sani mengaku, DPRD juga menyoroti program Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada Oktober-Desember mendatang. Di mana, Dinas UMKMP harus sudah menyiapkan beberapa program, khususnya persiapan program One Kecamatan One Centre Of Entrepreneurship (OK Oce).
“Infrastruktur di kecamatan itu harus disiapkan baik dari aspek fisik ruangan, Sumber Daya Manusia (SDM), kemudian juga aplikasi, jaringan, pembiayaannya, itulah persiapan nanti untuk pelaksanaan lebih maksimal,” ucapnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah menuturkan, banyak hal yang diubah dalam pembahasan RAPBD-Perubahan 2017. Perubahan tersebut terjadi karena adanya kesalahan penulisan pada hal-hal kecil dalam RAPBD 2017.
Nantinya, anggaran dalam kegiatan yang dicoret akan dialokasikan terhadap pembangunan prioritas, salah satunya fasilitas penunjang Asian Games 2018. “LRT, velodrome, dan equestrian itu kan tugas nasional untuk menyukseskan pesta olahraga Asian Games. Itu yang menjadi prioritas,” ucapnya.
Pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga tidak heran masih adanya kegiatan yang dicoret dalam pembahasan anggaran di tahun terakhir. Hal itu akibat tidak adanya suasana kondusif dalam birokrasi Pemprov DKI.
Terlebih, pejabat DKI mendapatkan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) tanpa perlu merapihkan rencan kegiatan dan pelaksanaannya. Tidak adanya jaminan hukum dan kerap disalahkan depan umum oleh pimpinan ketika melakukan kesalahan mengakibatkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) takut menjalankan kegiatan.
“Banyaknya program menggunakan dana perusahaan swasta juga menambah buruknya perencanaan perangkat daerah. Jadi mending asal saja, toh TKD tetap dapat,” ucapnya.




Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana secara tegas mengatakan menolak untuk membahas kelanjutan dari dua Raperda terkait Reklamasi pantai utara Jakarta. Hal ini disampaikan setelah menerima rombongan Komunitas Nelayan Tradisional (KNT) dan Relawan Gerbang Jakarta, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (26/7/2017).
embangunan di Jakarta tentu berpengaruh terhadap warga Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta. Pembangunan besar-besaran di Jakarta semakin membuat pemukiman warga khususnya warga Betawi semakin sempit dan tergeser. Posisinya terlihat semakin tersingkir, semoga nasib warga Betawi tidak menjadi seperti suku Aborigin di Australia atau suku Indian di Amerika. Suku yang menjadi warga kelas dua di wilayah asli mereka sendiri, selain itu mereka juga kehilangan hak-hak sosial kehidupannya. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit, hotel, apartemen, minimarket, serta mall-mall secara perlahan dan sadar menyingkirkan penduduk asli. Pembangunan fisik Kota Jakarta yang tidak mempertimbangkan faktor kelanjutan hidup satu komunitas masyarakat dengan budayanya, ujungnya bisa saja seperti penghapusan etnis tertentu yang dijalankan pelan – pelan. Betawi sebagai pihak yang memiliki tanah sebagai warisan leluhur, kampung halaman, adat istiadat, dan bahasa, harus dihormati selaras dengan perkembangan jaman dan peradaban. Pembangunan Jakarta disinyalir telah berdampak terhadap ancaman kepunahan budaya dan masyarakat Betawi sebagai satu kesatuan suku atau etnis di Jakarta.


Jakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya religiusitas masih bersinar di kota ini, cahaya itu kian terasa di akhir – akhir ramadhan seperti saat ini. Jakarta kini, 22 Juni 2017 memasuki usianya yang ke-490. Ibu Kota Indonesia itu lahir pada 22 Juni 1527 dengan nama Jayakarta. Tanggal tersebut diketahui merupakan hari di mana pasukan Fatahillah sebagai panglima Kesultanan Demak merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis. 490 sebuah usia yang harusnya sudah cukup matang dan dewasa untuk menyelesaikan berbagai masalah internalnya. Namun kita ketahui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai kini. Kini ulang tahun Jakarta terjadi di akhir – akhir bulan ramadhan, di 10 hari terkahir bulan ramadhan, dimana sebagain warga Jakarta duduk bersimpuh memanjatkan doa dan dzikir di masjid – masjid, sholat taraweh atau sholat malam, itikaf, khataman Qur’an dan lain – lain.

Anggota Legislatif Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Ahmad Yani, merespon cepat perwakilan warga yang pada Selasa (30/5) lalu mengadukan permasalahan wilayahnya ke Fraksi PKS, terkait rencana Pembangunan Pasar dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dilahan Pasar Minggu. Wakil rakyat PKS daerah pemilihan Jakarta Selatan ini menemui perwakilan warga di Masjid Palapa sekaligus ibadah shalat Ashar berjamaah.
Di bulan Ramadhan yang suci, Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta tetap menerima aspirasi di Hari Aspirasi pada Selasa setiap pekannya. Kali ini Fraksi PKS menerima Forum RT RW LMK Kelurahan Pasar Minggu, Kecamatan Pasar Minggu, untuk menyampaikan penolakan pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di lahan PD Pasar Jaya, Pasar Minggu. Perwakilan warga ini di terima oleh Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi, dan Anggota DPRD Komisi A bidang Pemerintahan Fraksi PKS daerah pemilihan (dapil) Jakarta Selatan Achmad Yani, dan Anggota Komisi D bidang Pembangunan DPRD DKI Jakarta, Rois Hadayana Syaugie.