Home Nasional Gesang Utari : Ukuran Keluarga Bahagia itu Penuh Nilai Kebaikan dan Ajaran Agama

Gesang Utari : Ukuran Keluarga Bahagia itu Penuh Nilai Kebaikan dan Ajaran Agama

by admin
Spread the love
Gesang Utari, Amd [Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga / BPKK PKS Jakarta Selatan]

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa anggota yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Salvicion dan Celis (1998) menyatakan bahwa di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah. Hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masingmasing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Undang-Undang (UU) Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, dalam Bab I pasal 1 ayat 6 menyatakan bahwa pengertian Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau suami, istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda).

Rumah tangga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang akan berkembang menjadi tatanan masyarakat yang lebih luas dan merupakan miniatur suatu negara. Kalau rumah tangga baik, maka baiklah negara dan kalau rumah tangga tidak baik, maka hancurlah negara. Mana mungkin kita membangun kota atau negara jika keluarga belum beres?

Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang kehidupan. Di dalam keluarga pula kita belajar tentang nilai-nilai kehidupan, norma, sikap, dan perilaku yang baik. Dari keluargalah bermuara segala kebaikan, keteladanan berfikir dan berperilaku. Keluarga dapat menjadi teladan bagi lingkungan masyarakat. Dari keluarga lah anak bisa belajar sifat dan sikapnya kelak yang akan diaplikasikan dalam lingkungan sosialnya. Karena itu sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga.


Nilai-nilai yang harus diwariskan keluarga bagi anggotanya tentu berbeda pada setiap keluarga. Namun setidaknya ada dua nilai dasar yang perlu ditanamkan pada keluarga, yakni yang berhubungan dengan spiritual dan fisik. Spiritual seperti halnya nilai agama dan kebaikan, sedangkan fisik merupakan prinsip-prinsip untuk menjaga kesehatan.


Belajar sebagai warga masyarakat yang baik, belajar tentang nilai-nilai kehidupan, norma agama, sikap dan perilaku, semuanya dapat dimulai dari sebuah lingkungan keluarga. Pesan kearifan keluarga yang mengandung nilai-nilai kebaikan, akan selalu menjadi bahan pertimbangan penting dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup dan pegangan untuk berperilaku dalam masyarakat.

Keluarga selalu menjadi elemen penting dalam menyiapkan generasi yang lebih baik. Nilai agama dan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan dalam keluarga,  pastinya akan dihadapkan dengan berbagai pengaruh lain seiring perkembangan zaman, dan akan mendapat ujian seiring berjalannya waktu. Agama dan nilai kebaikan akan selalu menjadi bahan pertimbangan penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang tengah dihadapi oleh tiap generasi keluarga ke depannya.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh suatu bangsa, termasuk bangsa Indonesia adalah munculnya berbagai macam krisis, diantaranya krisis ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan moral. Namun diantara banyaknya krisis tersebut, yang menjadi masalah utama adalah krisis moral. Dengan adanya krisis moral akan memunculkan berbagai macam krisis lainnya.

Ketika zaman telah bertransformasi menjadi sebuah era komunikasi dan informasi yang begitu bebas dan terbuka, maka diperlukan sebuah tatanan nilai yang baik untuk membentuk karakter yang baik. Salah satunya dengan menerapkan nilai – nilai agama  dan kebaikan dan juga nilai – nilai pancasila yang diterapkan dalam lingkungan keluarga.

Karakter yang baik menurut Lickona (2013 : 82), terdiri dari mengetahui yang baik (moral knowing), menginginkan yang baik (moral feeling), dan melakukan hal yang baik (moral action), yang dalam penjelasannya disebutkan sebagai pembiasaan dalam cara berfikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan.

Karakter terdiri dari kebiasaan-kebiasaan, kebiasaan yang terbentuk semasa kanak-kanak dan remaja kerap bertahan hingga dewasa. Orang tua dapat mempengaruhi pembentukan kebiasaan anak mereka, dalam hal yang baik maupun yang buruk.

Dalam sebuah keluarga, ayah dan bunda merupakan satu tim sehingga perlu menjalankan perannya masing-masing dengan adil dan sesuai fitrahnya. Semakin banyak anggota keluarga, semakin banyak peran ganda yang mau tidak mau harus dilakukan ayah dan bunda.

Seiring berkembangnya jaman dan tingginya tuntutan sosial-ekonomi membuat semakin banyak pasangan suami dan istri yang keduanya bekerja. Oleh karenanya sangat penting adanya pembagian peran dan tugas dalam rumah tangga. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Olson et al. (2011), pasangan yang keduanya (suami dan istri) melakukan pembagian tugas dalam keluarga secara egaliter maka akan lebih bahagia dibandingkan dengan pasangan yang dilakukan secara kaku. Adanya penyesuaian dari suami dan istri membuat beban dan tugas terasa lebih ringan karena suami dan istri saling mendukung satu sama lain.

Apa yang membuat hidup kita lebih bermakna? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tetapi secara umum dapat diduga, bahwa yang membuat hidup seseorang lebih bermakna adalah dua hal, yaitu agama dan keluarga. Agama yang memberikan makna dalam kehidupan manusia untuk mencapai terminal kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sedangkan keluarga merupakan cikal bakal kehidupan manusia sebelum mengarungi kehidupan yang lebih luas lagi di dunia. Sehingga, nilai-nila yang ditanamkan dalam keluarga akan memberikan makna yang sangat berharga bagi perjalanan kehidupan selanjutnya.


Dalam kehidupan nyata, kita dapatkan orang yang bergelimang dengan harta, tetapi hidupnya merasa tidak bermakna karena jauh dari agama. Pada saat yang sama ada orang yang hidup sederhana, tetapi merasa bahagia karena mengamalkan ajaran agama. Begitu pula banyak orang yang merasa hampa dan tidak berguna karena kehidupan keluarganya tidak harmonis. Tetapi banyak juga orang yang merasa bahagia dan bersemangat kerja, karena keadaan keluarganya rukun. Juga banyak anak-anak yang terlantar, merana, dan menjadi korban narkoba, karena keadaan keluarganya berantakan. Dengan demikian, agama dan keluarga merupakan instrumen penting dalam membangun kehidupan agar lebih bermakna dan bahagia.


Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang sempurna sangat memperhatikan pembinaan agama dalam keluarga. Islam sangat menekankan nilai agama dalam keluarga.  Al Quran sebagai kitab suci umat Islam banyak menceritakan tentang kisah-kisah sukses keluarga yang mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi generasi-generasi yang tangguh, unggul, dan shaleh. Seperti kisah Nabi Ibrahim as yang sukses membina keluarganya sehingga anak keturunannya semuanya diangkat menjadi nabi dan rasul.


Al Quran pun mengabadikan keluarga Imran menjadi nama surat dalam Alquran, yakni Surat Ali-‘Imran (keluarga Imran), karena keluarga ini sudah menunaikan janjinya untuk mengajari putrinya (Maryam) dengan pendidikan agama di bawah asuhan Nabi Zakaria as. Sehingga kelak dari wanita suci Maryam ini lahirlah seorang rasul, yakni Nabi Isa as. Al Quran juga mengabadikan keluarga Luqman al-Hakim yang bukan nabi dan rasul menjadi Surat Luqman. Karena ia telah berhasil mendidik anaknya dan meletakkan dasar-dasar pengajaran agama dalam keluarga untuk mempersiapkan generasi-generasi yang shaleh.


Akan tetapi Alquran pun memberikan sinyalemen, bahwa setelah generasi terbaik akan datang generasi yang sangat jelek dari segi akhlak dan moralnya. Ciri-cirinya adalah generasi yang menyia-nyiakan perintah agama untuk melaksanakan shalat dan mereka pun dalam kehidupannya selalu memperturutkan hawa nafsu dengan banyak berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Akibatnya kehidupan menjadi rusak dan ancaman kehancuran sudah berada di depan mata. Allah SWT  berfirman: Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam [19]:59).


Karena dari sejak awal Alquran sudah mewanti-wanti, bahwa kita harus bisa menjaga keluarga dari ancaman siksaan neraka. Allah SWT berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66]:6).


Dari sinilah pentingnya penguatan nilai agama dalam keluarga. Sehingga diharapkan dapat menyelamatkan anak-anak kita dari jurang kehancuran dan kehinaan. 

You may also like

Leave a Comment